There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are.
Ernst Haas (1921–1986)

Berawal dari pertemuan R.D.S Soemardi dengan Tjan Gwan Bie, seorang fotografer dan pemilik Apotik Arjuna (jalan Solo) di Gedung Chung Hua Thung Hoee (CHTH) kemudian menjadi Gedung Olah Raga di Jalan Trikora (waktu itu). Perbincangan mengenai hobi fotografi yang sedang berkembang saat itu akhirnya mengerucut pada perlunya membentuk perkumpulan fotografi sebagai sarana meningkatkan pengetahuan tentang fotografi. Maka berdirilah HISFA.

Berdirinya HISFA 1954

Melalui pengumuman dari mulut ke mulut dan selebaran sederhana, terkumpulah 18 orang sebagai anggota pertama. Mereka itu antara lain Yong Kian, Sim Wan Yau, dr. Soeharso, Kwik We Toen, dan Tjoa Ping Gwan.

Umumnya mereka yang bergabung ke HISFA sudah saling kenal terlebih dahulu. "Karena waktu itu tustel masih langka, jika sesama pemilik tustel (kebetulan dibawa) ketemu di jalan terus kenalan," ujar Ircham, fotografer senior SKH Kedaulatan Rakyat yang bergabung dengan HISFA pada tahun 1955".
Sangat disayangkan hingga kini belum jelas siapa yang memberi nama HISFA. Begitu pula dengan perancang logo organisasi yang berbentuk muka depan lensa dengan potongan film negatif bertulisan HISFA tertempel di depannya. Sedangkan dipinggir lensa tertulis melingkar Himpunan Seni Foto Amateur Jogjakarta. Pada awalnya, tahun berdirinya HISFA tidak dicantumkan logo, baru belakangan kemudian tercantum.

Sejak dahulu, kegiatan HISFA tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan saat ini. Misalnya hunting foto bersama-sama ke luar kota untuk mencari objek menarik atau memotret di situs Taman Sari. "Kami ke sana (Taman Sari) naik sepeda bersama-sama," kenang Ircham yang waktu itu menggunakan tustel Superincota. Sedangkan Soemardi sendiri, antara lain menggunakan Rolleiflex.

Dalam soal hunting foto, ada satu hal yang patut dicatat dari Soemardi. Dia adalah penemu lokasi Gurun Pasir di Pantai Parangtritis sebagai salah satu tempat paling favorit untuk hunting foto di Indonesia.

Setelah hunting foto bersama, selanjutnya diadakan pertemuan di rumah Soemardi untuk membahas hasil foto mereka. Jamaknya, pertemuan ini dilakukan malam hari sesudqh toko tutup. Di sinilah para anggota HISFA saling gelajar tentang teknik fotografi seperti pencahayaan, angle, diafragma dan lain-lain.

Sebagai seorang paling senior, Soemardi lebih banyak memberikan ilmunya kepada anggota. Sebelum mendirikan HISFA, Soemardi sudah menjadi fotografer berprestasi. Ia pernah menjadi juara 1 Central Pertoekangan Prijs Foto Westrijd (1941). Pada tahun 1953 ia juga memenangkan Rochester International Salon of Photography New York. Setelah bergabung dengan HISFA Soemardi juga menang di Hong Kong International Salon of Pictorial Photography tahun 1957. Serta pada International Photography Exhibition of the State of Singapore tahun 1962. Dengan kata lain, nama Soemardi sudah menembus dunia Internasional.

Menurut Inu Wicaksana dan Iwan, puncak kebesaran HISFA terjadi pada kurun waktu tahun 1956 hingga tahun 1959. Dalam periode ini, para anggota HISFA sangat produktif mengikuti acara ceramah, diskusi dan produktif menghasilkan karya foto yang banyak diikutsertakan dalam lomba foto baik tingkat nasional dan internasional. Berkat keuangan yang memungkinkan, buletin HISFA juga dapat diterbitkan secara teratur.

Tetapi memasuki dasawarsa tahun 1960-an krisis politik yang disusul krisis ekonomi mengakibatkan aktivitas anggota HISFA mengalami penurunan tajam. Hunting foto dan diskusi jarang dilakukan.

1969 - 1980

Sejak periode 1970-an, seiring dengan pulihnya situasi politik dan ekonomi, HISFA mulai menunjukkan tanda-tanda aktif lagi. Hunting foto mulai dilakukan, baik di wilayah pantai selatan Yogyakarta atau ke Temanggung. Ada pengalaman menggelikan ketika suatu kali beberapa anggota HISFA memotret model telanjang (wanita) dari Wonosari di Pantai Krakal, Gunung Kidul. Usai sesi pemotretan, "Kami lari dikejar wanita itu karena uang yang kami berikan kurang" ujar S. Setiawan yang bergabung dengan HISFA antara tahun 1969-1970.

Antara tahun 1973 hingga tahun 1979, Hisfa juga berhasil menggunakan Gedung Seni Sono (dahulu terletak persis di selatan Gedung Agung) untuk pertemuan anggota. Selain itu, HISFA juga dapat menggunakan gedung ini untuk pameran foto secara gratis. Dalam periode ini, prestasi HISFA yang patut dicatat adalah keIkutsertaannya dalam pendirian Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada Agustus 1973. Dalam acara itu HISFA diwakili oleh R.D.S. Soemardi, Peter Jatmiko dan S. Setiawan.

Pada tahun 1978, HISFA yang beranggotakan sekitar 50-an orang dan Borobudur Amatir Foto (BAF) Purworejo mendapat kepercayaan dari FPSI untuk melaksanakan Salon Foto Indonesia 1978 yang berlangsung di Purworejo dan Yogyakarta.

Tahun 1979 adalah tahun duka cita bagi HISFA sebab pada 17 September 1979, RDS. Soemardi meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Untuk mengenang jasa-jasanya, sejak Lomba Foto Tahunan 1981 HISFA memberikan tropi R.D.S. Soemardi Memorial Award bagi juara umum.

1989 - 1999

Memasuki era 1980-an, HISFA di bawah kepemimpinan KPH. Anglingkusumo mencatat point penting, yaitu kondisi keuangan organisasi mulai membaik. Awalnya adalah keberhasilan HISFA mengadakan Foto Fair yang berlangsung di Purna Budaya Yogyakart pada tahun 1981. "Dari situlah organisasi mulai mempunyai uang" tandas Johnny Hendarta Yosgiarso, fotografer pemilik CPC Studio yang masuk HISFA pada tahun 1978.

Selain itu hubungan dengan sponsor pun mulai erat, terutama dengan pihak Fuji Film (PT. Modern Photo, Tbk.) Sisi baiknya, setiap kegiatan selalu mendapat dukungan dari sponsor. Lomba Foto Tahunan HISFA dan pameran foto karya anggota pun sering digelar.

Keberhasilan penyelanggaraan Salon Foto Indonesia pada tahun 1978, berbuah baik, sebab HISFA kembali dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan even fotografi bergengsi ini pada tahun 1981, 1995, dan 2001. "Prestasi ini hanya diungguli PAF Bandung yang menjadi tuan rumah Salon Foto Indonesia sebanyak lima kali" kata Johnny. Johnny Hendarta dan para anggota HISFA layak bangga karena menyelenggarakan acara ini bukan persoalan mudah. "Rumit, karena kita harus bekerja keras satu tahun penuh," tambahnya.

Pada tahun 1991, HISFA kembali menorehkan sejarah dengan menjadi sekretariat FPSI untuk dua periode, yaitu tahun 1991-1994 dan 1994-1997. Waktu itu ketua FPSI adalah H. Boedihardjo dan sekjen-nya Johnny Hendarta. Sejak tahun 1991 itulah, berkat kedekatan HISFA dengan PT. Modern Photo, Tbk., Salon Foto Indonesia diselenggarakan setiap tahun tanpa putus.

Prestasi HISFA lainnya adalah ikut andil menyediakan tenaga pengajar untuk jurusan fotografi di fakultas baru yang dibentuk di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI), yaitu Fakultas Seni Media Rekam pada tahun 1994. "Waktu itu belum ada dosen fotografi lulusan S-1" tutur Risman Marah, anggota HISFA yang waktu itu sudah menjadi dosen di ISI. Maka alternatifnya adalah para penggiat HISFA yang sudah mempunyai jam terbang tinggi dalam dunia fotografi. Mereka yang kemudian menjadi tenaga pengajar luar biasa (TPLB) adalah S. Setiawan, Johnny Hendarta, dan Heri Gunawan.

Memasuki abad ke-21, HISFA kembali menggebrak dunia fotografi dengan menyelenggarakan lomba foto inovasi untuk pertama kalinya di Indonesia. Lomba karya foto yang memberikan peluang bagi fotografer untuk 'bermain-main' dengan obyek foto dan mengutamakan konsep foto itu bernama Kontes Foto Inovasi dan berlangsung pada bulan Mei 2001 di Yogyakarta.

Menurut Ketua Umum FPSI, Soebagio Wahyudi, kegiatan dan kategori lomba foto jenis ini menambah kekayaan jenis lomba, kontes, salon foto Indonesia. Sejak lomba foto itu, beberapa salon foto dan lomba foto di Indonesia memasukkan kategori foto inovasi dalam materi lombanya.

Selain berhasil menggiatkan aktivitas fotografi baik di tingkat lokal dan nasional, tujuan dasar HISFA sendiri sebagai 'kawah candradimuka' untuk meningkatkan keterampilan fotografi anggotanya juga tercapai. Terbukti, banyak anggotanya yang berhasil merebut gelar pada even fotografi nasional dan bahkan internasional. Sebut saja misalnya nama S. Setiawan yang mendapat 22 gelar pada klub fotografi luar negeri. Antara tahun 1981-1987 ia selalu masuk dalam 10 besar dunia menurut Photographic Society of America (PSA). Begitu pula dengan anggota lain yang tak kalah prestasinya antara lain; Ircham, Johnny Hendarta, Agus Leonardus, Risman Marah, Ali Budiman, KRMT. Roy Suryo dan masih banyak lagi lainnya.

"HISFA adalah tempat sharing, jika aktif dapat menimba ilmu," ungkap Johnny Hendata. Sedangkan S. Setiawan mengaku banyak belajar soal black and white dari R.D.S. Soemardi dan Ircham. Begitulah suasana di HISFA yang kental dengan proses saling belajar. Tidak ada yang merasa lebih dari anggota lainnya. Sesama anggota selalu saling belajar.

b>Di era tahun 1999 HIsfa dipimpin oleh Pak Lukman Dharsono


2006 - sekarang

Tahun 2006 Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia kembali memberi kepercayaan kepada HISFA untuk menjadi sekretariat FPSI pada periode ini ketua umum dipercayakan klub kepada Johnny Hendarta, yang pada waktu itu masih menjabat sebagai ketua HISFA. Sekjen FPSI Subagio, bendahara Ir. Gunawan SL, hubungan luar negeri dipercahayan kepada Harto Solichin Margo (PAF) dan Seksi Pameran dan Lomba oleh Tonisuria.

Selama menjadi sekretariat FPSI tahun 2006 - 2009 dan 2009 – 2012, tim formatur HISFA membentuk pengurus baru, yang pada waktu itu Srd. Doni Fitri terpilih sebagai ketua HISFA, diawal kepemimpinan Doni Fitri, pertemuan rutin masih diadakan di Ruang Sidang Puro Pakualaman, di sekretariat HISFA yaitu di CPC. Pernah sekali diadakan di balai desa Bangirejo namun lebih sering diselenggarakan di Kampus Desain VISI di hari Jumat terakhir. Pertemuan bulanan mulai berorientasi pada materi fotografi dan informasi seputar perkembangan fotografi dan teknik teknik digital imaging. Hisfa juga mendatangkan pemateri dari luar klub seperti Darwis Triadi, Don Hasman, make-up artis, creative shering yang disampaikan oleh; Alex Luthfi. M. Ds

Setelah lama vakum dalam exhibition, akhirnya HISFA kembali menggelar pameran karya-karya terbaiknya dengan tema “The Work Without Border #1 di Jogja Galeri pada tanggal 4 – 18 Mei 2013 yang dibuka oleh Menpora RI. Pameran akbar Hisfa ini diulas oleh Mikke Susanto, seorang penulis ternama di seni rupa, pameran ini berjalan dengan baik dan diikuti oleh 54 anggota HISFA. Kegiatan ini diekpos oleh 1 stasiun televisi lokal dan 3 media cetak.

Pada tanggal 22 – 29 Maret tahun 2014, Hisfa kembali menyelenggarakan Pameran “The Work Without Border #2” yang menyajikan karya-karya HISFA yang lebih specific (personal) di Bentara Budaya Yogyakarta, Pameran ini juga dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI, yang diikuti oleh 20 orang peserta yaitu dari Jogjakarta 14 orang, Magelang 2 orang, Solo 2 orang, Wonosobo 1 orang dan Denpasar 1 orang.

Pameran kedua ini juga mendapat sambutan baik dari masyarakat, dan didukung system informasi kegiatan secara online dan penyebaran buku agenda pameran secara menyeluruh oleh Bentara Budaya sehingga “The Work without Boreder #2 ” ini terpublikasikan sampai ke empat kota besar yaitu; Jakarta, Jogja, Solo dan Denpasar di mana Bentara Budaya tersebut berada.

Sesuai keputusan munas di Jakarta tahun 2012, atas usulan HISFA dan klub lain di FPSI untuk penyelenggaraan salonfoto selanjutnya akan lebih didekatkan ke masyarakat di seluruh Indonesia di manapun klub yang tergabung dibawah naungan FPSI tersebut berada.

Dengan niat membumikan salonfoto di masyarakat maka HISFA, mulai mensosialisasikan salonfoto ke masyarakat, salah satunya dengan mengajak UKM Fotografi – DWPh untuk menggelar karya pemenang dan mengadakan sarasehan untuk mengupas karya Salonfoto Medan di kampus mereka. Kegiatan ini mendapat respon yang sangat baik dari pengunjung pameran. Rencana akan diteruskan hingga ke Solo namun tidak terealisasi karena kendala teknis dan kebetulan konsentrasi HSB Solo waktu itu bertepatan dengan perayaan HUT- klub mereka.

Penyelenggaraan karya anggota Hisfa dan karya pemenang Salonfoto Indonesia ke 35 tidak lepas dari kerja keras dari para pengurus HISFA yaitu; bapak Subagio, (sekretaris), Tonisuria (bendahara), Budi Prast, Berti Lauren Numberi dan bapak Purwanto selaku (seksi pertemuan).

Selain berprestasi di perhelatan Salonfoto Indonesia dan Biennale yang diselenggarakan oleh FPSI yang beraviliansi ke FIAP.Anggota HISFA juga sering memenangkan Lomba Foto Komersial di Indonesia,

Beberapa anggota juga dipercaya menghandle even besar, seperti penyelenggaraan Rally Photo yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota DIY, Jogja Dalam Lensa oleh Dinas Pariwisata Kota, Jogja Air Show, Lomba Foto oleh Dinas Pasar di Kota Yogyakarta, dan Kampanye lingkungan Climate Pic dari Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Tahun 2015 yang lalu, bertepatan dengan Munas dan penyelenggaraan Salonfoto ke 36 di Semarang, Hisfa Yogyakarta dengan berani mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan Salonfoto Indonesia yang ke 37 yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan September tahun 2016.

Sebagai satu keluarga besar, HISFA berduka karena beberapa anggota orang seniornya telah lebih dulu dipanggil kepangkuan Yang Maha Kuasa. Keceriaan mereka akan selalu diingat yaitu; alm. Jack Andu, Ali Budiman dan dr. Gatot.

Langkah-langkah HISFA pada kepengurusan yang akan datang dipercayakan kepada Sdr. Harjanto Sumawan, namun semangat di tubuh HISFA masih sama sejak klub ini didirikan yaitu, kebersamaan dan berbagi antar sesama anggotanya.

"Tulisan disarikan dari buku 50 tahun HISFA yang ditulis oleh Sdr. Bambang dan laporan pengurus"
by Doni Fitri

 
“It is more important to click with people than to click the shutter.”
Alfred Stieglitz (1864 – 1946)

Visi HISFA.

Kebersamaan dan Berbagi


Menjadi sarana untuk berbagi kecintaan dalam fotografi dalam keakraban dan kekeluargaan yang ayem.

Menjadi tempat belajar dan berkarya bagi anggotanya

Mendukung perkembangan fotografi untuk para anggotanya dan kemajuan fotografi indonesia secara umum.

15

Photography Events


98

articles


128

Members


62

Tahun dalam Kebersamaan