Street Photography, Erik Prasetya

Jl-Surdirman

Memahami jalanan


Ini tidak akan dimulai dengan definisi atau batasan, tapi dimulai dengan pertanyaan: ada apa di “jalanan” sehingga street photography [fotografi jalanan] tumbuh? Apa yang istimewa dari jalanan?

Jalanan memiliki keistimewaan. Disana manusia bergerak. Jalanan berarti jalur untuk dilewati dari satu tempat ke tempat lain [sekalipun ada yang nongkrong]. Mobilitas dan dinamika adalah karakter jalanan. Konsekuensinya, dijalan ada ketegangan sehari-hari—ketegangan yang cukup normal bagi masyarakat yang menghidupinya, ketegangan yang tak sampai pecah jadi kerusuhan, ketegangan yang cukup beradab. Perpaduan dari keberadapan, ketegangan, dinamika, dan mobilitas ini antara lain yang membuat jalanan jadi istimewa. Karakter khas inilah yang para juru foto coba dekati. Dalam sejarah, kampiun juru foto jalanan punya pendekatan yang berbeda beda.

Jalanan tidak hanya difahami terbatas sebagai jalanan secara formal dan fisik. Karakater jalanan terjadi di ruang ruang public yang lain: taman kota, stasiun, mal, bantaran sungai dan lain lain. Para street photographer pun pergi ke segala macam ruang public untuk menangkap momen momen yang disediakan oleh kombinasi keberadapan, ketegangan, dinamika, dan mobilitas manusia.

Dalam sejarahnya, para jurufoto jalanan tertarik pada manusia dan jejaknya. Bukan pada arsitektur atau benda benda per se. ini sangat penting diperhatikan. Yang membedakan fotografi jalanan dengan fotografi arsitektur kota adalah focus dan minatnya terhadap manusia; sekalipun dua duanya memang berminat pada kota….
Memahami-Kota

MEMAHAMI KOTA


MENGAPA JURUFOTO jalanan lebih berminat pada kota daripada desa? Jawabannya mudah; karena jejak peradaban dan ketegangan di kota lebih nyata daripada di pedesaan. Ini menegaskan kembali bahwa minat street photography adalah pada manusia dan kemampuan makhluk itu bernegosiasi dan bergerak dalam ketegangan peradaban yang dibangunnya. Apalagi kini lebih dari separuh penduduk dunia tinggal di perkotaan. Fotografer jalanan tidak tertarik pada keindahan alam, matahari tenggelam, bulan purnama, jika itu tidak dimaknai dalam hubungan dengan manusia di ruang publik. Fotografi jalanan terpikat pada manusia dalam dinamika di sekitarnya.

Sekalipun berminat pada manusia, street photography bukan membuat potret seorang individu. Potret [portrait] adalah foto sosok seseorang. Dalam potret, yang diutamakan adalah orang itu; siapa dia, apa karakternya, bagaimana benda benda disekitarnya menjadi atribut sosoknya. Pendekatan potret menonjolkan individu dan menjadikan lingkungan sebagai latar belakang. Dalam street photography, individu individu adalah elemen vital. Elemen dari apa? Elemen dari dinamika dan gerak yang ada diruang publik. Jika foto-potret menggambarkan sosok seseorang, street photography menggambarkan hubungan antar orang, atau hubungan antar orang dengan sekelilingnya.

Ingatlah, kota tidak terdiri dari satu orang. Ruang publik bukanlah ruang privat. Minat street photography adalah pada emosi kota dan ruang publik.
Jl-Sudirman-2

EMOSI SEBUAH KOTA


Apakah kota punya emosi? Ini memang pendekatan antroposentris; kota jadi punya perasaan seperti manusia. Kita melihat kota bukan pada fisik dan geografisnya. Kota dibentuk oleh manusia yang mendiami. Tanpa manusianya, yang ada adalah jasad kota. Emosi sebuah kota adalah rangkuman emosi manusia manusia yang menghidupi kota itu.

Pada individu, emosi berjejak di wajah, gesture tubuh, gerak gerik, dan jarak individu itu dengan benda atau orang lain. Begitu juga kota, emosi itu tampak pada wajah wajah, gesture, gerak dan jarak manusia manusia yang berinteraksi. Sesekali ada juga jejaknya pada benda benda. Inilah minat fotografi jalanan: Merekam emosi kota. Itu yang membedakan street photography dengan foto dokumenter dan jurnalistik ketika sama sama merekam kota.

Perhatian pada emosi kota membawa fotografer jalanan pada pendekatan yang khas. Emosi bukan sesuatu yang sangat terukur. Bukan logika kita yang menangkapnya, melainkan intuisi dan perasaan kita. Maka, pendekatan street photography memerlukan intuisi dan perasaan. Konsekuensinya, street photography memerlukan estetika. Foto jurnalistik dan dokumenter berharga karena informasi keras yang ditampilkannya. Street photography berharga karena informasi halus yang disampaikannya dalam estetika. Suatu usaha mencapai rasa hanya bias disampaikan dengan pendekatan rasa pula.

Telah disebutkan tiga genre penting dalam fotografi yang muncul semenjak ditemukannya kamera cepat: dokumenter, jurnalistik, dan street photography. Sekali lagi, istilah street photography belum dipakai secara khusus sebagai sebuah genre sampai menjelang tahun 90-an. Ketiga pendekatan fotografi itu saling berpisah maupun bertumpangan. Namun ada bidang bidang dimana ketiganya terbedakan seperti yang disebut table dibawah ini.

Perbedaan1

Erik Prasetya


Bekerja dalam perbagai genre fotografi sebelum memutuskan untuk secara khusus merekam jalanan.
Telah menjadi street photographer selama sedikitnya 25 tahun.

Salah satu fotographer dari "20 Most Influential Asian Photographers 2012" menurut survey Invisible Photographer Asia.

Salah satu anggauta dewan juri pada kategori Street Photograpy di Salon Foto Indonesia '37
Ini tidak akan dimulai dengan definisi atau batasan, tapi dimulai dengan pertanyaan:
ada apa di “jalanan” sehingga street photography [fotografi jalanan] tumbuh?
Apa yang istimewa dari jalanan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *